[HOAKS] - ETNIS ROHINGYA DIBAWA INGGRIS UNTUK MENJAJAH MYANMAR


Kategori Informasi: Disinformasi
Kategori Hoaks: Konten/ Informasi Sesat (Misleading Content)
Sabtu, 30 Des 2023

DISINFORMASI
Beredar informasi di media sosial Facebook bahwa Rohingya datang bersama Inggris untuk menjajah Myanmar.

PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran, dilansir dari cnbcindonesia.com (15/12/2023) bahwa pembahasan mengenai Rohingya terkait erat dengan sejarah Islam di Myanmar (dulu Burma). Islam diketahui pertama kali dibawa masuk para pedagang Arab pada 1055 dan mereka pertama kali menginjakkan kaki di delta Sungai Irrawaddy, pesisir Tanintharyi dan Arakan (kini negara bagian Rakhine). Kedatangan pedagang Arab juga melakukan penyebaran agama ke penduduk lokal, sehingga terjadi proses Islamisasi dan membentuk komunitas-komunitas Muslim di Myanmar, khususnya di daerah Arakan.

Titik balik perkembangan Islam di Arakan terjadi ketika Narameikhla (nama lain: Naramakhbala) menjadi penguasa daerah pada 1430 dengan mendirikan Kerajaan Mrauk U. Sebelumnya, Narameikhla sempat mengasingkan diri ke Benggala untuk meminta tolong ke Sultan Bengal Jalaluddin Mahmud Syah. Di sana dia menganut agama Islam dan mengubah nama menjadi Suleyman Shah.

Dilansir dari artikel Neo Historia Indonesia di situs rattibha.com (08/12/2023) berjudul ”Sejarah Penindasan Etnis Rohingya yang Dilakukan oleh Pemerintah Myanmar,” Raja Narameikhla yang diasingkan ke Bengal pada tahun 1406 tersebut memohon bantuan Sultan Jalaluddin Mahmud Shah untuk mengembalikan kekuasaannya di Arakan. Setelah Narameikhla (Suleyman Shah) berhasil mendapatkan tahtanya kembali, ia mengizinkan komunitas Muslim Bengal untuk bermukim di Arakan dan menyatakan kerajaannya sebagai Vassal State (negara bawahan) Kesultanan Bengal dan bahasa Persia dijadikan salah satu bahasa administratif di Kerajaan Mrauk-U.

Di Burma sendiri, perbedaan basis kultural tampak dari kondisi faktual dengan adanya dua etnis yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda di wilayah Arakan.

Yang pertama, adalah suku Rakhine yang menganut agama Budha dan mendiami wilayah Arakan Selatan, mereka terkenal sebagai pendiri kota kuno Dhanyawadi, Kerajaan Waithali dan Kerajaan Mrauk-U. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Arakan, salah satu dialek bahasa Burma yang termasuk rumpun Sino-Tibetan.

Yang Kedua, adalah kelompok pendatang dari wilayah Bengal yang masuk pada masa Kerajaan Mrauk-U dan ditambah pada masa penjajahan Inggris, mereka mendominasi wilayah Arakan Utara. Selain beragama Islam, mereka juga berbicara menggunakan dialek Bahasa Bengali Chittagong yang termasuk rumpun Indo-Eropa. Mereka inilah yang kini dikenal sebagai Rohingya.

Dalam cnbcindonesia.com (15/12/2023), disebutkan bahwa di bawah kekuasaan Suleyman, daerah Arakan menjadi tempat subur perkembangan Islam. Masjid dapat berdiri dan dakwah Islam bisa bebas disebarkan, ekonomi pun bisa menjadi maju. Periode kekuasaan Mrauk U (1430-1784) menjadi masa-masa keemasan umat Islam di Burma, sampai kemudian runtuh karena invasi Kekaisaran Burma yang mayoritas beragama Budha.

Dalam laporan Al Jazeera, disebutkan bahwa  situasi perlahan mulai berubah ketika Inggris berkuasa di Myanmar dalam kurun 1824-1948. Sepanjang masa penjajahan, terjadi migrasi buruh dari India dan Bangladesh. Mereka yang beragama Islam juga ikut serta dalam proses migrasi. Dalam perkembangannya, migrasi ini kemudian dipandang negatif oleh mayoritas penduduk Myanmar. Terlebih, politik kolonial Inggris yang membuat segregasi antara Muslim dan non-Muslim semakin memperkeruh suasana.

Singkat cerita, pada 1948 Burma merdeka dari tangan Inggris. Kemerdekaan ini sama sekali tidak melibatkan komunitas Muslim di Arakan. Bahkan, mereka juga tidak dianggap bagian dari Myanmar. Padahal, pemerintah Inggris sempat berjanji akan memberi otonomi khusus kepada mereka.

Ayu Chan dalam risetnya berjudul "The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma" (2005) mencatat istilah 'Rohingya' pertama kali muncul tahun 1950. Sebelumnya, kaum Muslim Arakan tidak menggunakan istilah itu dan pemerintah hanya menyebutnya sebagai 'Kaum Bengal.' Penyebutan Bengal didasarkan fakta bahwa orang Rohingya secara fisik, budaya dan bahasa memiliki kemiripan budaya orang-orang Bengali dari Asia Selatan.

Perbedaan fisik inilah yang kemudian menjadi dasar pemerintah melakukan represi ke Rohingya sejak tahun 1950-an. Mereka dikatakan ingin mengusir Rohingnya yang Muslim dan berbeda fisik. Isu rasis semacam ini lantas dikuatkan oleh aturan Kewarganegaraan Myanmar tahun 1982. Di aturan itu, Rohingya bukan warga negara Myanmar dan dianggap hanya pendatang.

Alhasil, penduduk Rohingya yang sudah ada di Rakhine secara turun-temurun dan sempat berjaya di Myanmar, terusir dari tempat tinggalnya. Pemerintah Myanmar tak ada lagi keharusan mengurus mereka karena dianggap bukan warga negara Myanmar. Penduduk Rohingya mulai bermigrasi ke negara-negara tetangga, seperti Bangladesh, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Sampai sekarang, semua tindakan itu masih terjadi. Sejauh ini menurut data UN Refugees (Agustus 2023) sudah lebih 1 juta penduduk Rohingya yang terusir dari tanah kelahirannya. PBB pun mencatat Rohingnya sebagai kelompok paling teraniaya di dunia.

KESIMPULAN
Informasi tentang etnis Rohingya datang bersama Inggris untuk menjajah Myanmar, adalah tidak benar. Faktanya, istilah ”Rohingya” pertama kali muncul pada tahun 1950 untuk menyebut kaum muslim Bengal yang sudah tinggal secara turun-temurun di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Kaum muslim Bengal diketahui pertama dibawa oleh Raja Narameikhla (Suleyman Shah) yang menjadi penguasa daerah pada 1430 dengan mendirikan Kerajaan Mrauk U. Sedangkan, Inggris berkuasa di Myanmar dalam kurun waktu 1824-1948.

SUMBER FAKTA:

  1. https://www.instagram.com/p/C0nlPZ9rqVm/?igshid=MTc4MmM1YmI2Ng==https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20231215100433-25-497605/rohingnya-dulu-sangat-berjaya-kini-dibantai-terusirhttps://www.unhcr.org/id/54329-14-fakta-mengenai-pengungsi-rohingya.htmlhttps://en.rattibha.com/thread/1733010793137098803https://catalog.ihsn.org/citations/49676

Bagikan: