[HOAKS] - TIDAK ADA ORANG YANG MENINGGAL MURNI KARENA COVID-19

Share :        
Rabu, 17 Jun 2020

DISINFORMASI
Beredar sebuah pesan berantai di Aplikasi WhatsApp yang menjelaskan tentang informasi seputar penyakit yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2 (COVID-19). Pesan itu menguraikan penjelasan tentang rapid test, Polymerase Chain Reaction (PCR), dan klaim bahwa tidak ada orang yang meninggal murni karena virus corona. 

PENJELASAN
Berdasarkan hasil penelusuran tim Jalahoaks, berikut beberapa fakta dan klaim dari sumber pemberitaan tentang Fakta Rapid Test, PCR (Polymerase Chain Reaction), dan Virus Covid19.

KLAIM 1 :  Fakta tentang Rapid Test

SUMBER : kumparan.com

FAKTA :

Tidak benar orang yang menderita flu bakal reaktif COVID-19 saat dites menggunakan rapid test. Rapid test adalah metode untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG yang diproduksi tubuh untuk melawan virus corona. 

Di dalam rapid test terdapat enzim. Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis atau senyawa yang mempercepat proses reaksi dalam suatu proses kimia organik. Dalam rapid test, enzim berperan dalam menentukan hasil tes COVID-19 yang dilakukan seseorang. 

Rapid test COVID-19 didesain untuk mendeteksi antibodi khusus melawan virus corona. Oleh karena itu, tidak benar jika dikatakan orang yang menderita flu bakal reaktif COVID-19 saat dites menggunakan rapid test.

 

KLAIM 2 : Fakta tentang PCR (Polymerase Chain Reaction )

SUMBER : www.alodokter.com

FAKTA :         

PCR atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Material genetik yang ada di dalam setiap sel, termasuk di dalam bakteri atau virus, bisa berupa DNA (deoxyribonucleic acid) atau RNA (ribonucleic acid). Kedua jenis materi genetik ini dibedakan dari jumlah rantai yang ada di dalamnya.

                            
DNA merupakan material genetik dengan rantai ganda, sedangkan RNA merupakan material genetik dengan rantai tunggal. DNA dan RNA setiap spesies makhluk hidup membawa informasi genetik yang unik.

Keberadaan DNA dan RNA ini akan dideteksi oleh PCR melalui teknik amplifikasi atau perbanyakan. Dengan adanya PCR, keberadaan material genetik dari beberapa jenis penyakit akibat infeksi bakteri atau virus akan bisa dideteksi dan akhirnya bisa membantu diagnosis untuk penyakit tersebut.

Beberapa penyakit yang bisa didiagnosis melalui tes PCR adalah:

- Infeksi human immunodeficiency virus (HIV)
- Hepatitis C
- Infeksi cytomegalovirus
- Infeksi human papillomavirus (HPV)
- Gonore
- Klamidia
- Penyakit Lyme
- Pertusis (batuk rejan)

Selain untuk mendiagnosis sejumlah penyakit di atas, tes PCR juga digunakan untuk mendeteksi virus Corona penyebab COVID-19. COVID-19 adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang lebih sering disebut virus Corona. Virus Corona penyebab COVID-19 ini merupakan jenis virus RNA. 

Setelah berhasil terdeteksi, materi yang ditemukan dicocokkan dengan DNA yang terdapat pada virus SARS-CoV-2. Virus yang merupakan kerabat paling dekat dari virus SARS-CoV (penyebab penyakit SARS) ini memiliki hampir 30.000 materi nukleotida yang membentuk DNA dan RNA virus. 

Jika temuan materi ternyata identik dengan DNA virus SARS-CoV-2, maka hasil pemeriksaan dikonfirmasi positif. Jadi, tidak benar tes PCR tidak bisa mendeteksi virus secara spesifik.


KLAIM 3 : Tidak ada orang yang meninggal murni karena  Virus Covid 19

SUMBER : kumparan.com

FAKTA : 

Ada sebagian pasien COVID-19 yang meninggal tanpa penyakit penyerta. Dikutip dari covid19.go.id, sekitar 97,7 persen dari 1.883 pasien meninggal akibat COVID-19 tidak memiliki penyakit penyerta atau tidak memiliki data lengkap. 

Ini artinya, ada sebagian pasien COVID-19 yang meninggal di Indonesia tidak disertai penyakit bawaan. Di Inggris misalnya, ada anak berusia 13 tahun meninggal karena COVID-19 pada akhir Maret 2020. Menurut peneliti, ada beberapa teori menjelaskan mengapa orang berusia muda yang tampak sehat bisa meninggal karena corona.

Yang pertama adalah jumlah paparan virus itu sendiri. Orang yang terpapar virus corona dengan jumlah yang lebih banyak akan mendapat risiko kematian lebih tinggi. 

Pandangan ini didukung oleh virologis, Alison Sinclair, dari Inggris dan Edwark Parker dari London School of Hygiene and Tropical Medicine.

“Berdasar laporan awal dari China, ada kecenderungan bahwa pasien yang terpapar jumlah virus yang lebih banyak akan mengalami gejala penyakit yang lebih serius. Hal ini juga terjadi pada SARS dan influenza,” ujar Parker, seperti dikutip dari The Guardian.

Yang kedua adalah gen. Michael Skinner, virologis dari Imperial College London, percaya bahwa kondisi genetik tertentu bisa membuat penyakit tertentu bereaksi berbeda. Jadi ada beberapa variabel yang memengaruhi tingkat keparahan seseorang saat terjangkit virus corona. 

Maka, dengan begitu klaim tidak ada orang yang meninggal murni karena virus corona tidak dapat dibenarkan. Karena sudah ada kasus pasien COVID-19 yang meninggal tanpa penyakit penyerta. 

Oleh karena itu, cara terbaik saat ini adalah berusaha sama sekali tidak tertular virus corona. Terus terapkan protokol pencegahan seperti memakai masker saat keluar rumah, physical distancing, dan rajin mencuci tangan.


KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan dan seluruh pemeriksaan fakta di atas, klaim perbedaan Rapid Tes, PCR (Polymerase Chain Reaction) dan tidak ada orang yang meninggal murni karena Virus Covid adalah klaim yang keliru. Rapid test COVID-19 didesain untuk mendeteksi antibodi khusus melawan virus corona, sementara Tes PCR dilakukan untuk mendeteksi materi genetik spesifik yang terdapat di dalam virus corona. Kemudian klaim yang mengatakan tidak ada orang yang meninggal murni karna virus corona juga tidak dapat dibenarkan. Faktanya, dikutip dari covid19.go.id, sekitar 97,7 persen dari 1.883 pasien meninggal akibat COVID-19 tidak memiliki penyakit penyerta atau tidak memiliki data lengkap.

Kategori Informasi: Disinformasi
Kategori Hoaks: Konten/ Informasi Sesat (Misleading Context)

Sumber Fakta : 
1. https://m.detik.com/news/berita/d-5031349/mengenal-apa-itu-rapid-test-biaya-dan-lokasi-tes-covid-19

2. https://www.alodokter.com/mengenal-tes-pcr-untuk-mendiagnosis-covid-19

3. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5044866/gaduh-di-medsos-benarkah-tak-ada-yang-meninggal-karena-virus-corona

4. https://kumparan.com/kumparansains/benarkah-tak-ada-orang-yang-meninggal-murni-karena-virus-corona-1tZu0Ibl2YA/full