[HOAKS] - SKRINING SEBELUM VAKSINASI TIDAK PERNAH DILAKUKAN


Kategori Informasi: Disinformasi
Kategori Hoaks: Konteks yang Salah (False Context)
Tematik: Kesehatan
Rabu, 15 Apr 2026

DISINFORMASI

Beredar video di Instagram dengan narasi vaksinasi yang dilakukan ke anak-anak, termasuk vaksin campak, tak pernah didahului dengan proses skrining atau screening. Vaksin langsung diberikan tanpa melihat efek samping dari penerimanya.

PENJELASAN

Berdasarkan hasil penelusuran fakta yang dilakukan oleh Tim Jalahoaks, diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar. 

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta (7/4/2026), dijelaskan bahwa video yang beredar tersebut berisi potongan video (clip) dari reels milik @puskesmastanjungpriok yang diunggah pada tanggal 17 Maret 2026. Video clip yang diambil berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat terhadap kegiatan imunisasi yang telah dilaksanakan.

"Dengan ini disampaikan bahwa seluruh kegiatan imunisasi yang dilaksanakan oleh Puskesmas Tanjung Priok telah dilakukan sesuai dengan prosedur, standar pelayanan, dan ketentuan yang berlaku, termasuk melalui proses screening kesehatan sebelum pemberian imunisasi," jelasnya.

Adapun video asli yang ditampilkan @puskesmastanjungpriok berisi dokumentasi kegiatan pemberian Catch Up Campaign Campak yang dilaksanakan secara jemput bola (door-to-door) sebagai upaya melindungi bayi dan balita dari penyakit campak serta melengkapi status imunisasi.

Pemberian Catch Up Campaign Campak dilakukan dengan terbitnya Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor IM.02.03/C/1082/2026 tentang Respon Imunisasi terhadap peningkatan kasus dan kejadian luar biasa campak tahun 2026 serta sebagai upaya melengkapi imunisasi campak pada bayi dan balita di wilayah kerja Kecamatan Tanjung Priok.

Strategi pelaksanaan Catch Up Campaign Campak oleh Puskesmas Tanjung Priok antara lain:
1. Menyediakan pos imunisasi pada 10 puskesmas pembantu dan puskesmas kecamatan;
2. Koordinasi dengan lintas sektor untuk penyediaan pos imunisasi di wilayah dan menetapkan sasaran imunisasi berdasarkan data bayi dan balita di wilayah Pos Imunisasi;
3. Membuka pos imunisasi dengan menyiapkan logistik;     
4. Melakukan skrining kesehatan baik pada saat pendataan maupun sebelum imunisasi, dengan melihat riwayat penyakit sebelumnya dan kondisi kesehatan saat ini;
5. Melakukan edukasi kepada orang tua bayi dan balita yang status imunisasinya belum lengkap atau terlewat;
6. Ibu dan keluarga bersedia dilakukan imunisasi langsung di rumah untuk melengkapi imunisasi MR yang ke 2 (pada video tersebut anak terlewat jadwal imunisasi karena orang tua belum sempat mengantarkan ke puskesmas/pos);
7. Setelah dilakukan screening kesehatan oleh dokter dan anak dinyatakan sehat maka dilakukan imunisasi atas persetujuan orang tua, kemudian dilakukan pencatatan dan observasi setelah dilakukan pemberian imunisasi pada anak;
8. Apabila terjadi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), dilakukan pelaporan secara berjenjang kepada Suku Dinas Kesehatan, Dinas Kesehatan, hingga Kementerian Kesehatan melalui website keamanan vaksin untuk selanjutnya dilaksanakan pengkajian bersama komite nasional penanggulangan KIPI Dengan demikian, klaim bahwa screening sebelum vaksinasi tidak pernah dilakukan adalah tidak benar; dan
9. Pelayanan imunisasi di pos yang telah disediakan tetap dilakukan untuk melayani orang tua yang dapat hadir membawa anaknya.

Dengan demikian, screening sebelum melakukan vaksinasi tidak pernah dilakukan adalah tidak benar.

KESIMPULAN
Klaim mengenai narasi vaksinasi yang dilakukan ke anak-anak, termasuk vaksin campak, tak pernah didahului dengan proses skrining adalah tidak benar. Faktanya, skrining kesehatan tetap dilakukan baik saat pendataan sasaran maupun sebelum imunisasi, dengan memperhatikan riwayat penyakit dan kondisi kesehatan anak.

SUMBER FAKTA:

  1. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta

Bagikan: