HOAKS AI MENGANCAM, SEMINAR JAKARTA SOLID KE-1 AJAK PUBLIK LEBIH WASPADA
Share :
Salah satu permasalahan yang menjadi momok di era digital ini adalah hoaks. Persebaran hoaks amat meresahkan dan kerap kali merugikan bagi masyarakat. Ditambah lagi, dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) menyebabkan ranah digital dibanjiri konten hoaks menyerupai aslinya.
Oleh sebab itu, Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta bersama Suku Dinas (Sudin) Kominfotik Kota Administrasi Jakarta Timur menyelenggarakan Seminar Literasi Digital Jakarta SOLID (Sadar Olah Literasi Digital) dengan tema “Hoaks, Disinformasi, dan Peran Publik di Era AI.”
Pelaksanaan Seminar Literasi Digital Ke-1 Tahun 2026 ini bertujuan mengedukasi masyarakat DKI Jakarta secara umum, khususnya warga Jakarta Timur agar menjadi pribadi yang memiliki kekebalan terhadap hoaks yang beredar, terutama hoaks berbasis konten AI.
Perihal pelaksanaan kegiatan seminar tersebut, Budi Awaluddin, Kepala Dinas Kominfotik Provinsi DKI Jakarta mengatakan bahwa kehadiran perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan, memberikan perubahan besar kepada kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, memberikan kemudahan dan di sisi lain dijadikan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk membuat hoaks.
“Kita semua menyadari bahwa perkembangan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam cara kita berinteraksi, bekerja, bahkan mengasuh keluarga. Dunia digital memberikan banyak peluang, namun di saat yang sama juga menghadirkan tantangan serius, di antaranya maraknya hoaks dan disinformasi yang dapat menyesatkan opini publik, memicu keresahan, bahkan berpotensi memecah belah persatuan,” ungkap Budi.
Budi juga mengatakan, untuk itulah diperlukan pembekalan kepada warga Jakarta agar tidak mudah terperdaya oleh konten hoaks berbasis AI. Dengan pembekalan itu, lanjut Budi, diharapkan warga Jakarta, khususnya warga Jakarta Timur, menjadi lebih kebal terhadap hoaks, terutama hoaks berbasis AI.
Pada kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Sri Gunting-Ruang Pola Kantor Wali Kota Kota Administrasi Jakarta Timur, Jalan Dr. Sumarno Nomor 1, RT 011 RW 008, Pulo Gebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur pada 6 Mei 2026 itu, Wali Kota Jakarta Timur Munjirin, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa saat ini kehidupan sudah masuk di era digital di mana persebaran hoaks dapat memengaruhi kehidupan warga.
“Melihat perkembangan hoaks sekarang yang begitu dahsyat mempengaruhi kehidupan kita. Bahkan, yang tadinya mungkin orangnya lurus-lurus saja, orangnya benar-benar saja. Akhirnya, terpengaruh oleh hoaks dan berubah,” ungkap Munjirin.
Untuk itulah, Munjirin mengungkapkan, perlu adanya kesadaran agar berhati-hati dalam bermedia sosial. Menurut Munjirin, kita harus mampu menahan diri ketika menerima informasi di media sosial dan jangan sampai menyebarkan hoaks kepada orang lain.
“Tapi kita juga harus sadar sebelum kita klik atau sebelum kita kirim, kita harus pikir dulu juga. Sebelum kita memencet, sebelum kita share dan sebagainya, pikir dua kali,” ungkap Munjirin.
Seminar Jakarta SOLID pertama tahun 2026 ini diisi oleh dua narasumber profesional yang memang amat memahami lingkup perkembangan hoaks dan AI. Kedua narasumber itu ialah Bentang Febrylian, Pemeriksa Fakta Profesional, dan Ika Karlina Idris, Associate Professor Monash University, Indonesia.
Pada sesi paparannya, Bentang menjelaskan di era digital informasi tersebar dengan sangat masif lantaran semua orang dapat membuat dan menyebarkan informasi. Kondisi itu, lanjut Bentang, juga menyebabkan persebaran hoaks menjadi sangat cepat.
“Sekarang (red: era digital) semuanya dapat membuat dan menyebarkan informasi. Kondisi itu menyebabkan persebaran hoaks juga menjadi cepat dan masif. Kondisi itu menyebabkan kebenaran suatu informasi menjadi sulit dipahami oleh seseorang lantaran sulit membedakan mana hoaks dan mana fakta,” terang Bentang.
Untuk itu, Bentang menjelaskan, perlu kiranya tiap individu memahami pentingnya kesadaran untuk tidak terburu-buru menyebarkan informasi dan membiasakan diri cek dan ricek kembali informasi yang didapatkan di gawai masing-masing.
“Bila dapat informasi melalui gawai kita, jangan langsung percaya. Cross check lagi, benar atau tidak informasinya. Sumbernya dari mana? Apakah dapat dipercaya sumbernya? Harus kritis sebelum menelan informasi dan membagikannya,” ungkap Bentang.
Sejalan dengan Bentang, narasumber kedua Ika Karlina Idris menjelaskan perkembangan pesat teknologi AI telah membawa perubahan signifikan dalam cara informasi diproduksi dan dikonsumsi.
“AI generatif kini memungkinkan pembuatan konten palsu dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, bahkan hingga 100 kali lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Hal ini menciptakan tantangan baru dalam ekosistem digital, yang batas antara realitas dan manipulasi menjadi semakin kabur,” jelas Ika.
Ika juga menjelaskan, untuk mengantisipasi tertipu konten hoaks yang dibuat oleh AI, penting bagi pengguna internet untuk mengenali tanda-tanda konten yang dihasilkan oleh AI. Secara visual, konten AI sering kali terlihat terlalu sempurna namun memiliki keanehan pada detail teknis, seperti kulit yang nampak plastik, latar belakang yang buram secara tidak wajar, hingga ketidaksamaan pada bagian tubuh seperti jari tangan atau telinga.
“Untuk tidak terjebak hoaks, terutama yang dibuat menggunakan AI, kiranya kita harus menerapkan metode SIFT, yakni protokol pengecekan fakta yang mandiri, dimulai dengan berhenti sejenak sebelum bereaksi terhadap informasi (Stop), diikuti dengan menyelidiki kredibilitas sumber (Investigate), mencari laporan dari media arus utama yang terpercaya (Find Coverage), serta menelusuri asal-usul klaim tersebut hingga ke sumber aslinya (Trace),” papar Ika.
Adapun kegiatan Seminar Literasi Digital Jakarta SOLID pertama ini diikuti oleh 733 peserta, terdiri dari 100 peserta yang hadir tatap muka di lokasi acara dan 633 peserta hadir secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting. Melalui Jakarta SOLID, Dinas Kominfotik Provinsi DKI Jakarta berharap warga Jakarta menjadi kebal terhadap hoaks, terutama hoaks yang menggunakan AI.