TERJEBAK STANDAR TIKTOK: SAAT KONTEN JADI PATOKAN HIDUP

Share :        
Rabu, 01 Apr 2026

Media sosial kini telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang, baik saat bekerja maupun ketika bersantai. Menurut laporan Digital Indonesia 2026 yang dirilis We Are Social dan Meltwater, terdapat lima pelantar media sosial yang paling sering digunakan oleh masyarakat Indonesia, yakni WhatsApp (90,8 persen), Instagram (82,4 persen), Facebook (81 persen), YouTube (80,3 persen), dan TikTok (78,4 persen).

Dari kelima pelantar tersebut, TikTok memiliki data yang cukup menarik. Dalam laporan itu, TikTok mencatat indeks pengguna aktif dan total waktu penggunaan mencapai 100 persen. Selain itu, setiap pengguna TikTok rata-rata menghabiskan waktu sekitar 1 jam 53 menit setiap harinya.

Data tersebut menunjukkan bahwa TikTok menjadi salah satu media sosial yang paling sering diakses sekaligus paling lama digunakan dalam satu waktu. Selama penggunaannya memberikan manfaat positif tentu hal itu bukanlah masalah, namun persoalan muncul ketika berbagai konten di media sosial justru disalahmaknai dan kemudian dijadikan sebagai acuan utama dalam kehidupan.

Mungkin Sobat Jala sudah cukup familiar dengan istilah standar TikTok. Istilah ini kerap muncul di kalangan anak muda, khususnya generasi Z. Secara sederhana, “standar TikTok” merujuk pada terbentuknya standar kehidupan yang dipengaruhi oleh konten-konten di TikTok, terutama dari para seleb TikTok.

Mulai dari gaya hidup, opini pribadi, flexing atau pamer kekayaan, hingga kisah romansa yang ditampilkan oleh para kreator sering kali dijadikan rujukan oleh sebagian pengguna TikTok sebagai gambaran kehidupan ideal. Tak heran jika perlahan-lahan “standar TikTok” mulai menggeser standar sosial yang sebenarnya telah lama ada di masyarakat.

Padahal, realita yang terlihat di TikTok tidak selalu sama dengan realita kehidupan di dunia nyata. Kebahagiaan, kesuksesan, atau pencapaian yang ditampilkan oleh para seleb TikTok belum tentu mencerminkan kehidupan mereka yang sebenarnya. Apa yang terlihat di layar gawai sering kali hanyalah potongan kecil dari kehidupan yang sudah dikemas sedemikian rupa.

Selain dipengaruhi oleh para seleb TikTok, fenomena “standar TikTok” juga semakin meluas karena banyaknya akun yang berlomba-lomba membuat konten demi mendapatkan perhatian dan jumlah penonton. Konten-konten serupa yang terus bermunculan akhirnya membentuk pola pikir tertentu di kalangan pengguna yang terlalu sering mengonsumsi konten TikTok.

Jika “standar TikTok” diterapkan dalam kehidupan nyata, dampaknya tentu tidak sederhana. Orang yang terpengaruh standar tersebut cenderung berusaha menyesuaikan hidupnya dengan apa yang mereka lihat di TikTok. Mereka terus mengejar tren, gaya hidup, maupun standar relasi yang muncul di halaman FYP.

Tanpa disadari, hal itu dapat memberatkan diri sendiri, bahkan juga orang tua, terutama bagi remaja yang masih bergantung secara finansial. Selain berpotensi menimbulkan masalah keuangan, mengejar standar hidup yang tidak realistis juga dapat berdampak pada kesehatan mental.

Masalahnya menjadi semakin serius ketika “standar TikTok” seolah berubah menjadi kewajiban yang harus dipenuhi agar seseorang merasa hidupnya layak atau dianggap berhasil.

Karena itu, penting bagi kita untuk membiasakan diri membedakan antara realita yang muncul di media sosial dengan realita kehidupan di dunia nyata. Interaksi sosial secara langsung juga perlu diperkuat agar kita tidak terlalu terjebak dalam pola pikir yang dibentuk oleh media sosial.

Pada dasarnya, berbagai pelantar media sosial memberikan banyak manfaat sekaligus hiburan bagi penggunanya, namun penggunaannya tetap harus bijak dan tidak berlebihan. Kita juga perlu memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.

Tidak ada salahnya untuk sesekali beristirahat dari media sosial jika penggunaannya sudah mulai mengganggu kesehatan mental. Pada akhirnya, bijak bermedia sosial adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam ilusi standar kehidupan yang terbentuk dari konten-konten di TikTok.

Artikel


Berita