JAGA KESEHATAN MENTAL SAAT BERMEDIA DIGITAL, DISKOMINFOTIK GELAR PELATIHAN JAKARTA SOLID (SADAR OLAH LITERASI DIGITAL) KE-3

Share :        
Kamis, 15 Jun 2023

Jakarta – Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan rangkaian acara “Jakarta SOLID (Sadar Olah Literasi Digital) bersama JakWifi” yang ke-3 pada Rabu (14/06/2023). Dilatarbelakangi maraknya isu mengenai kesehatan mental yang terjadi karena penggunaan media digital, Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta menggelar webinar bertema “Cakap Bermedia Digital, Selamatkan Kesehatan Mental!”

Narasumber pada webinar kali ini merupakan ahli dari bidang yang berhubungan dengan literasi digital serta psikologi. Narasumber pertama adalah Ida Ayu Prasasti yang merupakan Program Director pada ICT Watch yang berfokus pada literasi digital, terutama untuk internet sehat. Narasumber kedua adalah Euis Desy Mayangsari, M.Psi, yang merupakan Psikolog sekaligus Asisten Deputi Pelayanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Perlindungan Khusus (PAMPK), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Pada tahun 2022, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa remaja merupakan pengguna internet terbanyak di Indonesia. Bermedia digital dapat memberi dampak yang cukup besar bagi kalangan remaja Indonesia, karena pada masa tersebut seseorang cenderung tidak stabil secara emosional. Gangguan seperti kecemasan yang dapat menyebabkan depresi, kerap kali muncul karena dampak buruk media digital seperti yang disebut diatas. Hal ini terutama terjadi karena cyberbullying merupakan suatu hal yang dapat ditemukan di berbagai sudut ruang digital kita.

Narasumber pertama, Ida Ayu Prasasti, yang akrab dipanggil Sasti menyampaikan bahwa seseorang dapat menggunakan gadget hingga 16 jam/ hari. Salah satu alasan utama fenomena yang sering terjadi pada kalangan remaja ini, adalah karena adiksi terhadap media sosial. Perasaan terdesak untuk membuka media sosial, walaupun sebenarnya kita tidak memiliki alasan untuk membuka suatu aplikasi media sosial, dikenal dengan Social Media Rush.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama kita menggunakan waktu kita untuk bermedia sosial, maka akan semakin tidak bahagia kita. Kebanyakan unggahan media sosial merupakan highlight dari kehidupan seseorang, sehingga unggahan-unggahan tersebut telah dipilih terlebih dahulu/ hasil kurasi.

Sayangnya, banyak sekali orang yang menggunakan media sosial lupa bahwa unggahan-unggahan di media sosial merupakan hasil pilihan/ kurasi. Sehingga, ketika kita melakukan perbandingan sosial diri kita terhadap orang-orang atau cerita yang kita temui di media sosial, dapat membuat diri kita cemas. Pemikiran seperti ‘saya tidak akan bisa memiliki apa yang mereka miliki’ tidak hanya dapat membuat kita cemas, tetapi juga bisa membuat kita depresi berkepanjangan.

Kita juga perlu mengetahui bahwa banyak sekali bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi secara online:

 

Walaupun banyak orang telah mengetahui atau bahkan mengalami kekerasan online, media sosial tetap dikunjungi oleh banyak orang setiap harinya. Fear of Missing Out atau yang biasa dikenal FOMO, dimana seseorang merasa takut akan ketinggalan akan suatu informasi atau tren apabila kita tidak segera cek atau melakukan kegiatan tertentu, menjadi pendorong kita untuk menggunakan media sosial walaupun kita telah mengetahui dampak buruk yang dapat terjadi.

“Kekerasan online yang paling sering terjadi adalah cyberbullying dan hatespeech” ucap Euis Desy Mayangsari ketika membuka materi kedua

Cyberbullying adalah bentuk pelecehan atau intimidasi yang dilakukan secara elektronik atau melalui media digital. Contohnya adalah unggahan gosip yang dikirimkan oleh seseorang dengan tujuan untuk menurunkan reputasi seseorang. Hatespeech adalah tindakan menggunakan bahasa atau ekspresi yang merendahkan, menghina, atau mengancam berdasarkan atribut seperti ras, agama, etnis, orientasi seksual, gender, atau kecacatan.

Seseorang dapat melakukan kekerasan sosial seperti cyberbullying, disebabkan karena beberapa faktor sebagai berikut:

  • Anonimitas: Ketika merasa tidak terhubung dengan seseorang secara langsung, sehingga seseorang tersebut merasa bahwa perilaku negatif yang dilakukan secara online, tidak akan menyebabkan konsekuensi.

  • Jarak Sosial: Interasi yang terjadi secara tidak langsung akan mengurangi empati dan sensitivitas seseorang, sehingga meningkatkan kemungkinan untuk seseorang melakukan tindakan negatif.

  • Ketidaktahuan dan Ketidakpedulian: Seseorang mungkin tidak mengetahui konsekuensi atau dampak yang dapat terjadi dari adanya kekerasan secara online, atau bahkan seseorang tidak peduli terhadap dampak tersebut sehingga perilaku negatif dapat dilakukan oleh orang tersebut.

  • Perilaku yang dipelajari: Seseorang dapat terpengaruh untuk melakukan tindakan negatif secara online apabila seseorang tersebut pernah terpapar perilaku negatif tersebut ketika menggunakan media digital.

  • Kurangnya Tanggung Jawab Pribadi: Beberapa orang mungkin merasa bahwa konsekuensi yang terjadi di dunia maya tidak akan terjadi di dunia nyata, sehingga beberapa orang tersebut akan lebih mudah untuk melakukan perilaku negatif secara online.

  • Kecanduan Digital: Ketergantungan terhadap media digital dapat mengurangi kontrol terhadap diri sehingga seseorang tersebut akan meningkatkan kemungkinan untuk terlibat dalam perilaku negatif.


Apabila kita pernah melakukan
cyberbullying atau hatespeech, kita harus bisa lebih bisa bertanggung jawab terhadap perilaku yang kita lakukan karena dampak yang mungkin muncul atas tindakan kita. Selain itu, melakukan instropeksi dan refleksi agar kita dapat menghentikan perilaku serta mengubah pola pikir yang bersifat negatif.

Mendapatkan bantuan profesional atau pendidikan mengenai kesehatan mental seseorang juga dapat mengembangkan empati serta penghargaan pada orang lain. Ketika kita memiliki empati serta lebih menghargai orang lain, maka kita akan lebih berhati-hati untuk melakukan tindakan yang dapat menimbulkan dampak buruk pada seseorang.


Mari kita lebih banyak libatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang bersifat positif, sehingga tidak hanya membantu diri kita sendiri tetapi juga dapat membantu orang lain.

Ruang digital kita, ruang aman kita.

Artikel


Berita