MEDIA KREDIBEL, ALAT AMPUH PEMBERANTAS HOAKS

Share :        
Kamis, 15 Des 2022

Perkembangan internet memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk mengakses informasi, salah satunya adalah berita. Berkah dari luasnya saluran informasi, kini masyarakat dapat memilih beragam jenis media massa berupa radio, televisi, koran, majalah, hingga media daring sesuai dengan preferensinya.

Perbedaan preferensi tiap individu dan kelompok dalam mengakses informasi, menghasilkan perbedaan jenis informasi yang diterima. Tiap media memiliki keunikannya sendiri dalam mengangkat informasi berdasarkan sudut pandang, ataupun angle dari sebuah narasi. Keunikan tersebut yang terkadang menjadi daya tarik bagi publik untuk memilih media.

Sebagai negara yang menikmati berkah dari demokratisasi, media turut terpengaruh di dalamnya melalui konsep demokratisasi media. Kini, siapa saja bisa menciptakan medianya masing-masing. Dampaknya, arus informasi terbuka sangat luas, bahkan tidak terbendung dan sangat bercabang.

Kemudahan untuk menciptakan media dan menyebarkan informasi tentu dibarengi cara main yang adil. Salah satunya melalui UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers. Fungsi pers (media) adalah untuk informasi, pendidikan, dan kontrol sosial. Ketiga bagian itu secara jelas bisa ditafsirkan yaitu sebagai alat pembentuk opini.

Indonesia adalah surga bagi media massa. Melalui catatan Dewan Pers (2018), jumlah media massa di Indonesia sebanyak 47.000 yang tersebar dari media cetak, radio, televisi, dan media daring. Kemudian, media daring dan portal berita daring yang ada di Indonesia tercatat sebanyak 43.300 di tahun yang sama.

Banyaknya jumlah media daring tersebut, jika dikelola secara bertanggung jawab semestinya bisa membentuk opini publik yang jernih, berimbang, dan jelas. Mirisnya, dari puluhan ribu media daring yang tercatat, tidak semuanya memilih untuk memberitakan sesuatu dengan baik dan tidak menggiring opini publik pada perpecahan.

Bahkan, tidak sedikit yang justru sengaja memilih kalimat redaksional yang provokatif, dengan motif mendapatkan pengunjung dan page view yang tinggi. Hal demikian menjadi dilema dalam pengelolaan media massa. Saat mayoritas masyarakat justru menyukai konflik, maka media yang tidak bertanggung jawab dengan senang hati akan memenuhi keinginan mereka dengan imbalan besarnya penghasilan dari jumlah pengunjung situs mereka.

Padahal, media daring memainkan peran yang sangat berpengaruh dalam meminimalisir persebaran hoaks, atau bahkan memutus rantai dari hoaks yang beredar secara liar. Pemerintah bahkan mencatat (Kominfo,2019) pada tahun 2019 terdapat 3.801 hoaks yang terlanjur menjadi konsumsi masyarakat. Hal demikian, seharusnya bisa ditanggulangi dengan pengelolaan media daring yang bertanggung jawab.

Pemerintah memang sudah memberikan ‘buku panduan’ pengelolaan media daring yang bertanggung jawab dengan regulasi hingga pembentukan institusi pengawas. Namun, kendali tertinggi ada pada diri kita sendiri untuk memilih media dan jenis informasi yang akan dikonsumsi.

 

 

Bagaimana cara membedakan jenis media daring yang kredibel dengan yang meragukan? Kita dimudahkan dengan adanya indeks dari Alexa, yang memetakan indeks media daring yang paling populer di Indonesia. Semakin populer media, maka semakin banyak waktu yang dihabiskan oleh individu untuk mengakses media tersebut. Hal demikian juga bisa menjadi indikator kredibilitas suatu media.

Berikut daftar 10 media massa terpopuler di Indonesia tahun 2021 versi Alexa:
(i)             Okezone.com
(ii)           Pikiran-rakyat.com
(iii)         Liputan6.com
(iv)          Tribunnews.com
(v)           Kompas.com
(vi)          Detik.com
(vii)        Merdeka.com
(viii)      Kumparan.com
(ix)          Suara.com
(x)           Sindonews.com

Daftar media berdasarkan popularitas tersebut, bisa menjadi masukan bagi masyarakat untuk memilih sumber informasi yang kredibel, khususnya terbebas dari unsur bohong atau hoaks. Bahkan, tidak sedikit dari daftar media tersebut yang kini memiliki segmen khusus yang mencari fakta dari suatu informasi agar terhindar dari penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab.

Karenanya, ketelitian dalam mengakses media haruslah berasal dari diri sendiri. Teknologi sudah banyak membantu kita dalam hal kemudahan akses informasi. Sebagai pengguna, kita harus lebih perkasa dari teknologi media penyebar berita.  

Carilah sumber berita yang terpercaya, karena opini kita terbentuk dari informasi mereka. Opini kita sangatlah berharga dan dihargai, karenanya jangan sampai keliru hingga membentuk opini publik yang runyam dengan konflik, disinformasi, hoaks, dan penuh dengan muatan negatif.

Penulis: Julian Savero Putra Soediro
PenyuntingMetha Silvia Ningrum dan Harry Sanjaya

Artikel


Berita